Get a Paper and Write! |
Now I know where I can throw these so called mind-trashes |
Apa reaksimu begitu menemukan burung kertas dalam kotak surat?
Kaget? Tentu. Pun Keira yang menerima sebuah surat dalam bentuk burung kertas. Burung kertas yang membawanya pada Dre – bocah misterius yang menjadi teman di masa kecilnya. Diselimuti kebahagiaan, Keira bertekad untuk bertemu dengannya – meski banyak risiko yang akan dia temui.
Di sisi lain, Keira harus berhadapan dengan ‘si Tampan Membunuh’ – sang asisten dosen bernama Nathan yang menyebalkan. Alih-alih menghindar, keduanya malah terlibat drama yang menuntun Keira pada sebuah kejutan yang tidak dia inginkan.
Apa Keira akan berhasil bertemu dengan Dre? Bagaimana jika hubungan Keira dan Nathan memancing api cemburu dari Wafi – sahabat Keira yang ternyata menyimpan perasaan lain padanya?
Lalu, apakah Keira siap menyibak sebuah misteri yang sudah terpendam selama delapan tahun?

“The Oracle” - hal pertama yang muncul dalam benak saya adalah salah satu mahluk mitos dalam Mitologi Yunani. Di seri Percy Jackson, digambarkan sebagai tengkorak yang berpakaian. Di film Clash of the Titans digambarkan dalam wujud tiga nenek mengerikan yang hanya mempunyai satu bola mata untuk meramal.
Oke, intinya The Oracle itu peramal dan saya tidak akan membahas tentang mahluk mitos kali ini. :))
Ditemani Shooting Star EP-nya Owl City, saya membaca “The Oracle” - karya dari seorang teman, Teguh Puja (@teguhpuja). Well, akhirnya, saya membaca tulisannya yang agak panjang, meski masih sebuah draft, setelah menjadi pengamat ocehannya di blog.
Bercerita tentang Pram, seorang peramal yang kehidupannya cukup rumit karena kemampuan ‘lebih’ yang dia miliki. Well, saya tidak bisa bercerita banyak karena… namanya juga masih draft. :)) Tapi, plot-nya sudah terbentuk dan saya dibuat cranky karena cerita terputus saat konflik mulai terendus. :|
Terlepas dari writing errors yang mengganggu, saya masih bisa menikmati tulisan Teguh yang khas. Sarat dengan diksi yang indah (bedalah sama saya yang blak-blakan!). Pemilihan POV orang kesatu membuat saya merasa dekat dengan Pram. Riset tentang dunia ramal meramalnya juga keren. Menandakan jika The Oracle digarap dengan serius.
Tidak sabar untuk menantikan kelanjutannya. Karena, secara pribadi, saya masih menganggap ramalan adalah hal yang sangat menarik. :D
erl.
Penasaran dengan The Paper Bird Songs? I’m gonna let you to read the comment first from my proofreader, Wafi! :D
“Gagasan kecil Erlin untuk memakai nama saya sebagai salah satu karakter adalah spontanitas; mungkin hanya beberapa hari sejak pertemuan kami. Tapi tidak terbayangkan gagasan tersebut beranak pinak menjadi ribuan kata dan ratusan halaman. Tidak mudah menyimpulkan semua isi novel ini hanya dalam satu paragraf, tapi kesan adalah sesuatu yang mungkin bisa saya bagi. Membaca, cerita khususnya, adalah aktifitas yang melibatkan rasa. Di dalamnya terdapat sebuah persuasi untuk terlibat dalam setiap sketsa. Novel ini, layaknya novel yang menarik, menghadirkan semua kesan tadi. Dengan mengambil setting tempat dan waktu yang dekat dengan pembaca, cerita di dalam novel ini mengikat saya untuk terus menagih lanjutan kisah hingga selesai. Mengusung tema cinta dan persahabatan yang sarat dengan emosi, saya yakin kita tidak akan bosan membaca lembar demi lembar cerita hingga selesai. Novel ini sangat “muda” bukan hanya karena tema, karakter-karakter, dan ceritanya, tapi juga karena sisipan lirik lagu dari band-band “terpilih” yang seakan menjadi soundtrack di setiap bab-nya; ini seperti menjadi trademark Erlin dalam bercerita. Sebagai penutup, novel ini menurut saya adalah novel yang bisa membuat anda bahagia dari awal hingga akhir. Salute! untuk Erlin.”
Can’t wait to show my 5th baby to you. Very soon!
erl.
Saat menulis review ini, saya sedang menikmati secangkir vanilla latte, cakue dingin (oke, aneh memang), dan baru selesai membungkus The Coffee Shop Chronicles supaya terlihat kece sebelum dibaca. Lagi.
Saya adalah penikmat kopi sejak usia 13 tahun (now, I’m almost 20). Berawal dari iseng mencicipi kopi milik ayah dan kemudian berubah jadi kecanduan. Saya dan kopi punya banyak cerita. Bukan rahasia lagi jika kopi juga jadi teman saat saya menulis. Tapi, sayangnya, saya jarang menemukan buku - khususnya fiksi - yang mengambil tema kopi. Lalu, ketika TCSC muncul, saya jadi penasaran, apa cerita-ceritanya akan sama nikmatnya dengan kopi yang saya sesap tiap pagi?
Jawabannya: seratus persen, iya.
Pernah lihat video Falling in Love at a Coffee Shop milik Landon Pigg? Itu yang saya rasakan ketika membuka halaman demi halaman TCSC. Duduk di pojok Priya’s Coffee sambil mengaduk secangkir hazelnut coffee dan menyaksikan setiap drama dari aktor dan aktris, serta penulis skenarionya yang berbeda. Takjub, sih, pasti. Bagaimana drama tentang sepasang kekasih, sahabat, runaway bride, gay, arwah penasaran(!), sampai sebuah cangkir berpadu dengan cara yang memikat. Berkali-kali, saya tersenyum, melamun, hampir tersedak kopi, sampai hampir menangis membacanya. The saddest part is when I reached the end. It seems like I enjoyed a nice coffee, tried to sipped it slowly, but my cup still got empty way too fast!
Rate? I give TCSC five cups of hazelnut coffee. Saya nggak kaget, sih, begitu tahu buku ini tembus major. Semua orang harus tahu kenikmatan secangkir kopi sambil membaca TCSC.
Tips dari saya, jangan lupa seduh satu atau dua cangkir kopi sebelum membaca TCSC.
Daftar Isi sementara untuk novel (yang belum punya judul - duh!). Mengutip satu baris dari lirik lagu dari tiap chapter-nya. :D
“Tell me what you see, am I insane?”
“You gotta keep your attention, love.”
“Every part of me is broken now.”
“And I’m nothing more than a line in a book.”
“When I’m breathing without you.”
“I need you to try and save me.”
“I can’t believe that’s what you did.”
“You don’t know how lovely you are.”
“I guess I’m gonna miss my chance again.”
“The look in her eyes makes me crazy.”
“I’m sorry I can’t be perfect.”
“We know we have to wait.”
“There’s no starting over.”
“I want to curse the spell you have on me.”
“This is no place to try and live my life.”
“And it makes me believe, that it’s you.”
Can you guess the songs? It sounds like a short poem, btw. ;)
erl.
Dania mengacungkan tangannya.
“Udah, gue aja yang jadi sekretarisnya!”
Seluruh mata tertuju padanya. Aryo, sang ketua angkatan yang sedari tadi sibuk memohon teman-teman sekelasnya untuk bergabung dalam tim produksi drama, bahkan tercengang sejenak. Namun, kemudian, dia tersenyum puas dan mengacungkan jempol.
“Dania jadi sekretaris! Sip!”
Beberapa temannya memberi tepukan di pundak. Dania tahu, mereka hanya merasa lega karena tidak ada yang harus dipaksa lagi untuk mengisi posisi itu. Lagipula, dia juga punya maksud lain untuk menjadi sekretaris.
Supaya dia tidak mendapatkan sebuah peran besar.
***
Romeo dan Juliet.
“Serius? Untuk pementasan drama tahun ini kita bakal mainin lakon ini?”
“Buset, bisa-bisa yang nonton nanti nelen baygon semua!”
“Ya, tapi gimana lagi? Sutradara ngasihnya naskah ini!”
Dania hanya menjadi penonton dari debat kecil di antara Ferdy – sang pimpinan produksi, Amanda – sang bendahara, dan Aryo yang juga memegang posisi sebagai astrada. Naskah baru diberikan oleh dosen mereka yang memegang posisi sebagai sutradara. Dalam waktu kurang dati enam bulan, mereka harus sanggup mementaskan lakon klasik ini.
“Latihannya tiga kali seminggu, ya,” ujar Ferdy, kalem. “Biar pentasnya bagus.”
“Uang kas lima ribu seminggu.”
“Ayo, Dan, tulis!”
Tanpa dipinta, Dania sudah mencatat setiap keperluan untuk lakon klasik ini. Romeo dan Juliet? Dia sudah memikirkan siapa saja yang cocok untuk memerankan pasangan ini. Yang pasti bukan dia. Dania akan menghindari peran Juliet sekuat yang dia bisa.
***
Sayangnya, tugas sekretaris tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Kalau sampai bolos tiga kali dari latihan, dosen tidak akan segan untuk mencoret namanya. Dania tidak mau kalau dia sampai harus mengulang mata kuliah ini tahun depan.
Setidaknya, dosen sudah mengatakan bahwa peran-peran besar tidak akan diberikan pada tim produksi dan artistik, karena mereka akan sangat sibuk. Jadi, saat memasuki tahap reading, Dania tenang-tenang saja membacakan naskah – bahkan untuk peran Juliet.
***
“Siapkan catatan, Dania! Hari ini, saya akan mengumumkan para pemeran lakon Romeo dan Juliet!”
Dania tersenyum sumringah dan duduk bersama tim produksi. Teman-temannya yang tidak bergabung dalam tim tampak gelisah. Berharap peran-peran besar tidak jatuh ke tangan mereka.
Ferdy menundukkan kepala dan berbisik pada Dania, “Jujur, ya, selama tahap reading, gue nggak nemu peran yang cocok buat Romeo dan Juliet.”
“Gue juga. Kalaupun ada yang pas, auranya nggak dapet sama sekali.”
“Setidaknya, posisi kita udah aman.”
“Tinggal duduk-duduk cantik di belakang stage.”
Dosen mengumumkan peran-peran kecil terlebih dahulu, agar mendapatkan klimaks saat pengumuman pemeran Romeo dan Juliet. Teman-temannya yang lolos casting diminta untuk berdiri di depan dan Dania dengan cepat menuliskan nama mereka.
“Terakhir, dua orang yang beruntung mendapatkan peran Romeo dan Juliet adalah…”
Dania sudah gatal ingin mencatat namanya.
“… Ferdy dan Dania!”
Pulpennya jatuh. Ferdy nyaris terjengkang dari kursinya.
“Pak, bukannya—“
“Ya, ya, seharusnya peran ini tidak jatuh ke tangan kalian. Tapi, saya jatuh hati hati dengan akting kalian kemarin. Chemistry-nya…”
Dania dan Ferdy saling bertukar pandang.
“Setidaknya, ada adegan minum racun di akhir lakon.”
***
10.09AM
Sunday, April 29 2012
Woop, woop, udah lama nggak berceloteh sejak konser Watic. Mau cerita di Blogger, tapi tampilann dashboard-nya ngehe.
Oke, sip!
Well, gue kembali bergumul dengan draft novel. Akhirnya! Setelah didera mental breakdown sebagai penulis, gue perlahan bangkit. Ternyata, agak sulit juga untuk kembali menulis novel. Gue mulai pelan-pelan dari flash-fict sama cerpen. Sampai awal tahun kemarin, gue menyusun outline. Tapi, seperti biasa, gue nggak pernah sukses namatin novel pake outline. Jadi, setelah dua kali gagal, gue akhirnya nulis TANPA outline.
Target awal nerbitin novel bulan Februari. Sayangnya, gue butuh adaptasi juga untuk novel baru ini, meski risetnya nggak seberat tetralogi Pandora. Yah, I guess I need to be patient.
Selama proses, gue juga menemukan banyak pengalaman dan orang baru. Mereka yang tanpa atau sengaja memberi masukan yang berarti buat tulisan gue. Glad to learn from them. Puncaknya adalah waktu gue ditawarin buat nulis review konser We Are the in Crowd. Itu momentum teredan setelah sempat merasa nggak pede jadi penulis.
Now, still writing. Still facing so me problems. But, am much better. Can’t wait to give a birth. :’)
erl.
| Calendar Pages: | And you're just a line in a song |
| Juneau: | Yet, I am nothing more than a line in your book... |
Watic’s M&G. Can’t help myself. I’m a happy writer. ;’)
I’ve got Cameron Hurley’s setlist from @WeAreTheInCrowd’s concert last night!
omg can we just appreciate these tributes outfits
like district 1 are vegas dancers

and district 2 thinks they’re in gladiator

Hujannya bertambah deras
Airnya bertambah banyak
Anginnya bertambah kencang
Dinginnya bertambah hebat
Hujannya bertambah deras
Menutup hari ini
Check out tomorrow’s issue of Kerrang! :)
sebelumnya, pengen ngucapin makasih pada sang penulis yang udah ngadoin novella nya sebagai hadiah ultah...
as long as you find your Autumn.
An Evening With Anberlin feat Travis Clark of We The Kings and Jenna McDougall of Tonight Alive